=|=Mohon Do'anya Teman-Teman Admin Akan Mengikuti SBMPTN 2013 Semoga Saya Lolos Ya ===Tєʀɨʍɑќɑsɨɦ===

Jadwal Piala Konfederasi 2013 (Siaran Langsung ANTV & TVone)


Piala Konfederasi FIFA adalah turnamen sepakbola yang siselenggarakan setiap 4 tahun sekali oleh FIFA dan diikuti oleh juara dari enam konfederasi FIFA (UEFA, CONMEBOL, CONCACAF, CAF, AFC, OFC), juara Piala Dunia FIFA dan negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia berikutnya.

8 Tim yang akan mengikuti turnamen Piala Konfederasi 2013 adalah Spanyol sebagai Juara Piala Dunia 2010, Brazil selaku tuan rumah piala dunia 2014, Italy sebagai runner up Piala Eropa 2012 yang menggantikan Spanyol karena dihitung sebagai Juara Dunia sehinga ada 2 wakil Eropa di turnamen ini, Nigeria juara Afrika, Jepang juara Asia, Tahiti Juara Oseania, Meksiko juara piala emas concacaf dan Uruguay sebagai juara Copa America.


Berikut ini adalah jadwal Piala Konfederasi 2013 :

16 Juni 2013


Brazil vs Jepang, jam 02.00 WIB

17 Juni 2013
Meksiko vs Italia, jam 02.00 WIB
Spanyol vs Uruguay, jam 05.00 WIB 

18 Juni 2013
Tahiti vs Nigeria, jam 02.00 WIB

19 Juni 2013
Brazil vs Meksiko, jam 02.00 WIB
Italia vs Jepang, jam 05.00 WIB

21 Juni 2013
Spanyol vs Tahiti, jam 02.00 WIB
Nigeria vs Uruguay, jam 05.00 WIB

23 Juni 2013
Italia vs Brazil, jam 02.00 WIB
Jepang vs Meksiko, jam 02.00 WIB

24 Juni 2013
Nigeria vs Spanyol, jam 02.00 WIB
Uruguay vs Tahiti, jam 02.00 WIB

Jadwal Semifinal Piala Konfederasi 2013
27 Juni 2013
Juara Group A vs Runner-up Group B

28 Juni 2013
Juara Group B vs Runner-up Group A

Perebutan Tempat ke-3: 



30 Juni 2013 jam 23.00 WIB antara tim yang kalah di babak semifinal

Final Piala Konfederasi 2013: 



31 Juni 2013 jam 05.00 WIB antara tim yang menang di babak semifinal
read moreJadwal Piala Konfederasi 2013 (Siaran Langsung ANTV & TVone)

Pengumuman Hasil Seleksi SNMPTN 2013


Logo

SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SNMPTN)
TAHUN 2013


PANITIA PELAKSANA
SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI
TAHUN 2013

Pengumuman Hasil Seleksi SNMPTN 2013

Pengumuman SNMPTN 2013 dapat dilihat pada
tanggal 27 Mei 2013 jam 16:00 WIB di alamat
http://www.snmptn.ac.id/hasil-seleksi


Semoga Kita Ketrima Ya :D
read morePengumuman Hasil Seleksi SNMPTN 2013

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid


Banyak orang yang tidak tau Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid, mungkin karna itu juga jamaah di masjid sekarang menjadi sedikit. Saya rasa kalian juga begitu, pasti lebih memilih shalat dirumah daripada pergi ke masjid. Apalagi kalau hujan begini.

Tapi, bagusnya kalau kita usahakan ke masjid. Apalagi kita yang laki-laki. WAJIB! Coba deh, cermati Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid dibawah ini. Dan buktikan bedanya.


1. Sebelum berjalan ke masjid, ketika seseorang berwudhu’ di rumahnya, bukan berwudhu’ di masjid, dia telah mendapatkan pahala atas wudhu’nya.

2. Ketika dia memakai pakaian dan wewangian dengan niat karena akan masuk masjid, maka dia akan mendapat pahala tersendiri. Karena Allah SWT telah memerintahkan agar seseorang berhias setiap masuk masjid.

3. Ketika seseorang berjalan ke masjid dengan melangkahkan kaki, maka tiap langkah kakinya itu mendapatkan kebaikan tersendiri yang mendatangkan pahala.

4. Ketika masuk masjid, seseorang akan mendapat pahala bila membaca doa masuk masjid.

5. Masih ketika masuk masjid, dia juga akan mendapatkan pahala ketika melangkah dengan kaki kanannya.

6. Begitu masuk masjid, seseorang akan mendapat kesempatan mendapatkan pahala dari shalat tahiyatul masjid.

7. Kemudian ketika seseorang duduk di masjid sambil menunggu datangnya waktu shalat, dia sudah terbilang melakukan i’tikaf bila dia meniatkannya. Menurut mazhab As-syafi’iyah, i’tikaf bisa dilakukan asalkan dengan niat dan berdiam di masjid, meski hanya sesaat saja.

8. Begitu adzan berkumandang, dia juga akan mendapatkan kesempatan mendapatkan pahala tersendiri dengan mendengarkan adzan dan menjawabnya. Apalagi bila dia sendiri yang melakukan adzan.

9. Setelah mendengar adzan, dia akan mendapatkan kesempatan mendapatkan kebaikan lagi ketika membaca doa setelah adzan.

10. Selesai doa adzan, dia akan mendapatkan lagi kesempatan mendapat pahala dengan shalat sunnah qabliyah.

11. Setelah iqamat didengungkan, lalu imam mengatur barisan, dia akan mendapatkan pahala lagi bila ikut memperhatikan imam dan mengatur barisannya agar lurus dan rapat.

12. Pada saat shalat jamaah dilaksanakan, dia akan mengikuti semua gerakan imam dengan baik. Kalau imam berdiri, maka dia berdiri, kalau imam rukuk, maka dia rukuk, kalau imam sujud maka dia ikut sujud. Semua tindakannya mengikuti imam itusudah mendatangkan pahala tersendiri.

13. Ketika imam sampai pada bacaan “waladhdhaallin”, maka dia menjawab, “amiin.” Jawaban itu mendatangkan pahala tersendiri.

14. Dia juga akan mendapatkan pahala tersendiri ketika mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, dibandingkan saat shalat sendirian di rumah, atau berjamaah di rumah. Karena salam itu doa untuk orang yang di kanan dan kirinya. Dan karena di masjid jumlah jamaahnya lebih banyak, maka doa yang akan diterimanya jauh lebih banyak.

15. Selesai shalat wajib, dia akan mendapatkan pahala lagi bila membaca beberapa lafadz dzikir atau doa.

16. Kemudian kesempatan berikutnya lagi adalah ketika dia melakukan shalat sunnah ba’diyah shalat.

17. Di dalam masjid, dia tentu akan bertemu dengan banyak jamaah shalat lainnya. Ketika bertemu dan memberi salam, dia akan mendapatkan pahala tersendiri.

18. Sambil memberi salam, apabila dia juga berjabat tangan, maka dia pun akan mendapatkan pahala tersendiri.

19. Senyumnya kepada sesama saudaranya adalah sedekah. Dan ini akan menambahlagi kesempatannya untuk mendapatkan pahala.

20. Ketika hendak berpisah dengan sesama jamaah di masjid, maka dia akan mendapat pahala bila mengucapkan salam atau membalas salam.

21. Dia juga akan mendapatkan pahala bila diikuti dengan berjabat tangan ketika akan berpisah dengan sesama muslim.

22. Ketika pulang dari masjid, dia membaca doa keluar masjid. Hal itu menambah lagi pahalanya.

23. Di masjid terbuka kesempatan untuk berinfaq, maka bila dia memanfaatkan kesempatan itu, dia akan mendapatkan pahala tersendiri dari berinfaq.

24. Di dalam masjid seringkali digelar khutbah atau majelis ilmu (kultum). Bila dia mendengarkan nasehat dan penyampaian ilmu dengan niat menjalankan perintah Allah SWT dan karena menuntut ilmu itu wajib hukumnya, maka dia akan mendapatkan kebaikan tersendiri.

25. Ketika keluar, dia melangkah dengan kaki kirinya. Satu lagi tambahan pahala akan didapatnya.

26. Ketika pulang, dia mengambil jalan lain yang tidak sama dengan jalan yang dilewati saat pergi ke masjid.
Ini adalah sunnah Rasulullah SAW yang tentu mendatangkan pahala tersendiri.

27. Setiap langkah kaki saat pulang dari masjid, maka dia akan mendapatkan pahala lain tersendiri.

Adapun Keutamaan Shalat Berjama'ah yang Lain :
  • lebih tinggi pahalanya daripada shalat sendiri.
  • terhindar dari gangguan setan.
  • bebas dari neraka dan sifat munafiq
  • didoakan oleh malaikat
  • mendapat pengampunan dosa

Semoga bermanfaat artikel Keutamaan Shalat Berjamaah Di Masjid ini, dan bisa menjadi penyemangat kalian supaya rajin ke masjid. Amiin
read moreKeutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Makna Cinta dan Pembagian Cinta dalam Islam



Cinta adalah kata yang sudah sangat sering dirasakan, diucapkan, dibicarakan dan banyak peristiwa yang mewarnai kehidupan bani adam dengan atas nama cinta, sehingga sudah tidak asing lagi dan mungkin tidak perlu definisi. Hanya saja disini akan sedikit diulas tentang kandungan maknanya dan beberapa macam pembagian jenis-jenis cinta agar lebih bisa membedakan dan lebih mengenal makna arti cinta sejati Cinta dalam bahasa arab umumnya menggunakan kata habba-yuhibbu "حُبُّ"  hubbun, terdiri dari huruf (ح) ha dan  (ب) ba, dan memang sepertinya kata inilah yang tepat untuk menggambarkan maksud atau makna cinta. 

Ada banyak makna tergantung kepada apa disandarkan atau dinisbahkan. Bisa bermakna menyukai, menyenangi, menginginkan, menghendaki, menggemari, memenuhi, mengutamakan, mengasihi, menyayangi, memilih, ramah. Selain itu ketika disebutkan kata "cinta" maka makna yang pertama kali muncul pada pikiran seseorang akan berbeda-beda tergantung kondisi zaman atau masa ketika itu, opini yang berkembang ketika itu, dan juga konteks pembicaraan dan pengetahuan orang tersebut. Dan Al-Imam Ath-Thohawy dalam syarah aqidah ath-thohawiyah menyebutkan ada sepuluh tingkatan cinta (al-mahabbah) dengan maknanya masing-masing. 

Adapun Al-Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin, 3/9 mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” Wallahu a'lam, demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah. Dan tentang macam-macam cinta maka ada beberapa jenis pembagian, diantaranya:

Pembagian Cinta Berdasarkan Hukumnya :
1. Ibadah
 yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada perkara yang dicintai Allah Allah ta'ala berfirman: "adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah" [Al-baqaroh: 165] Rasul shallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Tiga perkara yang apabila ada pada seorang hamba ia akan merasakan manisnya keimanan: (1)Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah (3) dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk di ceburkan ke dalam neraka [HR.Bukhori: 16, Muslim: 43] 

2. Kesyirikan yaitu cinta kepada selain Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah atau bahkan lebih Allah berfirman: "Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan (Allah), yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah" [Al-Baqaroh: 165] 

3. Kemaksiatan yaitu mencintai perkara yang haram, kebid'ahan, kemaksiatan, serta mencintai pelaku kebid'ahan, dan pengikut hawa nafsu, dan yang lainnya dari kecintaan yang menyelisihi syariat. Allah berfirman: "Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz [1] menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata." 

4. Mubah yaitu cinta tabiat, seperti mencintai anak-anak, keluarga, jiwa, harta, makan, tidur, dan perkara-perkara lain yang dibolehkan syariat. 
Allah berfirman:
 زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖوَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ 
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[2] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Namun seharusnya kecintaan pada perkara ini hanya sebatas kecintaan tabiat yang manusiawi. Apabila perkara-perkara tersebut menyibukkan, atau memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah dan menjadikannya meninggalkan beberapa perkara yang diwajibkan, maka kecintaan seperti ini termasuk kecintan maksiat. Terlebih lagi apabila kecintaan ini sampai melampaui batas dalam kehidupannya dan hatinya dan dia mencintainya seperti mencintai Allah atau bahkan lebih, maka kecintaan ini menjadi kecintaan syirik (kesyirikan).
[3] Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
 يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ مَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْخاسِرُونَ
"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi." [Al-Munaafiqun: 9] 

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ 
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” [An Nur: 37]

Sumber: http://ittaqi-tafuzi.blogspot.com



read moreMakna Cinta dan Pembagian Cinta dalam Islam

Keutamaan Kalimat Tauhid "LAA ILAHA ILLALLAH"


Ibnu Rajab dalam Kalimatul Ikhlas mengatakan, ”Kalimat Tauhid (yaitu Laa Ilaha Illallah) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung.”
Lalu beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keutamaan kalimat yang mulia ini.
Di antara yang beliau sebutkan :

>> Kalimat Laa Ilaha Illallah merupakan harga surga

Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, ”Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya) : ”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah laa ilaha illallah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashabih no. 1621)


>> Kalimat Laa Ilaha Illallah adalah kebaikan yang paling utama

Abu Dzar berkata, ”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.”
Lalu Abu Dzar berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, apakah laa ilaha illallah merupakan kebaikan ?”
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Kalimat itu (Laa ilaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)


>> Kalimat Laa Ilaha Illallah adalah dzikir yang paling utama

Hal ini sebagaimana terdapat pada hadits yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’),
”Dzikir yang paling utama adalah bacaan laa ilaha illallah.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)


>> Kalimat Laa Ilaha Illallah adalah amal yang paling utama, paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak dan merupakan pelindung dari gangguan setan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
”Barangsiapa mengucapkan 'laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qadiir’ [Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.”(HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 7018)


>> Kalimat Laa Ilaha Illallah adalah Kunci 8 Pintu Surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai

Dari ’Ubadah bin Shamit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda (artinya) :
”Barangsiapa mengucapkan saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)


Inilah sebagian di antara keutamaan kalimat syahadat laa ilaha illallah dan masih banyak keutamaan yang lain. Namun, penjelasan ini bukanlah inti dari pembahasan kami kali ini.
Perlu di ketahui bahwa kalimat tidaklah akan berguna melainkan dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Untuk mengetahui Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang Harus Dipenuhi lihat DISINI.



read moreKeutamaan Kalimat Tauhid "LAA ILAHA ILLALLAH"

Syarat Kalimat Tauhid (Laa Ilaha Illallah)

Banyak orang yang salah dan keliru dalam memahami hadits-hadits tentangkeutamaan laa ilaha illallah. Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan –misalnya-, maka seseorang akan masuk surga dan terbebas dari siksa neraka.

Hal ini tidaklah demikian. Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.

Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya.
Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan Syarat laa ilaha illallah.


Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini :

Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan, ”Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga.”
Lalu beliau rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa menunaikan hak kalimat tersebut dan juga kewajibannya, maka dia akan masuk surga.”

Wahab bin Munabbih telah ditanyakan,”Bukankah kunci surga adalah laa ilaha illallah ?”
Beliau rahimahullah menjawab, ”Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.”
Beliau rahimahullah mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah(Lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar I/179-180)


Mengenal Syarat Laa Ilaha Illallah

Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi Tujuh Syarat berikut :

1. Mengilmui maknanya yang meniadakan kejahilan (bodoh).
2. Yakin yang meniadakan keragu-raguan.
3. Menerima yang meniadakan sikap menentang.
4. Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan.
5. Jujur yang meniadakan dusta.
6. Ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’.
7. Cinta yang meniadakan benci.


Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut :

>> Syarat Pertama adalah mengilmui makna laa ilaha illallah

Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.
Allah Subhanahu Ta’ala berfirman (artinya) :

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Allah.” 
(QS. Muhammad : 19)


Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (artinya) ْ:
"Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui dengan benar (laa ilaha illallah) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az Zukhruf : 86‏‎)‎

"Katakanlah : Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” 
(QS. Az Zumar : 9)

“...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28)

Dalam kitab shahih dari ‘Utsman, Beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” 
(HR. Muslim no.145)



>> Syarat Kedua adalah meyakini kalimat laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna.
Allah Ta’ala memberikan syarat benarnya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan sifat tidak ada keragu-raguan. Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala (artinya) :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat : 15)

Apabila seseorang ragu-ragu dalam keimanannya, maka termasuklah dia dalam orang-orang munafik –wal ‘iyadzu billah [semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini].
Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut,

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At Taubah : 45)

Dalam beberapa hadits, Allah mengatakan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaha illallah akan masuk surga dengan syarat yakin dan tanpa ada keraguan.
Diantara Hadits tersebut adalah :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca : meninggal dunia) dengan membawa keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga.” (HR. Muslim no. 147)


Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dengan keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu, Allah tidak akan menghalanginya untuk masuk surga.” (HR. Muslim no. 148)



>> Syarat Ketiga adalah menerima kalimat laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan, tanpa menolaknya.
Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata : "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".

(Rasul itu) berkata : "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya ?"
Mereka menjawab : "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya."
Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az Zukhruf : 23-25)

Dalam kitab shahih dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam.
Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya. Permisalan lainnya adalah permisalah orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2093. Lihat juga Syarh An Nawawi, 7/483 dan Fathul Bari , 1/130)



>> Syarat Keempat adalah inqiyad (patuh) kepada syari’at Allah

Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Karena dengan inilah, seseorang akan berpegang teguh dengan kalimat 
Laa ilaha illallah.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (artinya) :

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” 
(QS. Luqman : 22)

Yang dimaksudkan dengan telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh adalah telah berpegang dengan laa ilaha illallah.
Dalam ayat ini, Allah mempersyaratkan untuk berserah diri (patuh) pada syari’at Allah dan inilah yang disebut muwahhid (orang yang bertauhid) yang berbuat ihsan (kebaikan). Maka barangsiapa tidak berserah diri kepada Allah maka dia bukanlah orang yang berbuat ihsan sehingga dia bukanlah orang yang berpegang teguh dengan buhul tali yang kuat yaitu kalimat laa ilaha illallah.

Inilah makna firman Allah pada ayat selanjutnya :

“Dan barangsiapa kafir (tidak patuh) maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.” 
(QS. Luqman : 23-24)


Jadi perbedaan qobul (menerima, syarat ketiga) dengan inqiyad (patuh, syarat keempat) adalah sebagai berikut :
Qobul itu terkait dengan hati dan lisan. Sedangkan inqiyad terkait dengan ketundukkan anggota badan.


>> Syarat Kelima adalah jujur dalam mengucapkannya

Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ikhlas laa ilaha illallahharus benar-benar jujur (tidak ada dusta) dalam hatinya dan juga diikuti dengan pembenaran dalam lisannya.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mencela orang-orang munafik -karena kedustaan mereka- pada firman-Nya (artinya) :

“Di antara manusia ada yang mengatakan : "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al Baqarah : 8-10)

Begitu juga pada firman-Nya (artinya) :
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata : "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah".

Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun : 1)

Untuk mendapatkan keselamatan dari api neraka tidak hanya cukup dengan mengucapkan kalimat tauhid tersebut, tetapi juga harus disertai dengan pembenaran (kejujuran) dalam hati.
Maka semata-mata diucapkan tanpa disertai dengan kejujuran dalam hati, tidaklah bermanfaat.

Lihatlah hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) :

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari no. 128)


>> Syarat Keenam adalah ikhlas dalam beramal

Maksudnya adalah seseorang harus membersihkan amal -dengan benarnya niat- dari segala macam kotoran syirik.
Allah Ta’ala berfirman ُ(artinya) :

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ketaatan (baca: ibadah) yang ikhlas (bersih dari syirik).” (QS. Az Zumar : 3)


“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” 
(QS. Al Bayyinah : 5)

“Maka sembahlah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya.” 
(QS. Az Zumar : 2)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) :
“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.”
(HR. Bukhari no. 99)



>> Syarat Ketujuh adalah mencintai kalimat laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ini mencintai (tidak benci pada) Allah, Rasul dan agama Islam serta mencintai pula kaum muslimin yang menegakkan kalimat ini dan menahan diri dari larangan-Nya.
Dia juga membenci orang yang menyelisihi kalimat laa ilaha illallah, dengan melakukan kesyirikan dan kekufuran yang merupakan pembatal kalimat ini.
Yang menunjukkan adanya syarat ini pada keimanan seorang muslim adalah firman Allah Ta’ala (artinya) :

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah : 165)

Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa orang- orang mukmin sangat cinta kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam cinta ibadah. Sedangkan orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah.
Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga membenci apa yang dibenci Allah walaupun dia condong padanya.

Sebagai bentuk cinta pada Allah adalah mencintai wali Allah dan Rasul-Nya serta membenci musuhnya, juga mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencocoki jalan hidupnya dan menerima petunjuknya.


Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa mendapatkan Keutamaan kalimat laa ilaha illallah. Jadi, untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan laa ilaha illallah bukanlah hanyalah di lisan saja, namun hendaknya seseorang memenuhi syarat-syarat ini dengan amalan/praktek (tanpa mesti dihafal).
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meyakini makna kalimat tauhid, mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya dalam perkataan maupun perbuatan, dan semoga kita mati dalam keadaan mu’min.


  • Pembahasan syarat laa ilaha illallah ini diringkas dari dua kitab, yaitu :


(1). Ma’arijul Qobul, I/ 327-332 dan
(2) Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/180-184)

Sumber : http://putrabungsu.pun.bz/syarat-kalimat-laa-ilaha-illallah.xhtml
read moreSyarat Kalimat Tauhid (Laa Ilaha Illallah)

Tips Menghadapi Ujian Nasional


Tips Menghadapi Ujian Nasional 

Ujian Nasional merupakan ajang untuk menunjukkan kemampuan diri. Saat itulah hasil belajarmu di evaluasi. Jangan grogi saat menghadapi UN. Tips berikut akan membantumu dalam menghadapi Ujian Nasional.


  1. Berdoalah kepada Tuhan dan Memohon Restu kepada Orang Tua.
  2. Perbanyak Latihan Soal.
  3. Belajar Kelompok.
  4. Biasakan Bersikap Jujur dan Sportif.
  5. Hindari Belajar Sistem Kebut Semalam (SKS).
  6. Hindari Kegiatan yang Bisa Mengganggu Konsentrasi Belajar.
Semoga Tips diatas dapat membantu dalam menghadapi Ujian Nasional.

Terimakasih ...^_^
read moreTips Menghadapi Ujian Nasional